Analisis Dampak Lingkungan Potensi Pencemaran
Limbah Plastik Forming di Medan
Dosen
Penanggung Jawab :
Rusdi Leidonald, M.Sc
Oleh :
Elvis Patric Presly
110302020
PROGRAM STUDI MANAJEMEN
SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
MEDAN
2014
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Plastik merupakan bahan
anorganik buatan yang tersusun dari bahan-bahan kimia yang cukup berbahaya bagi lingkungan.
Limbah daripada plastik ini sangatlah sulit untuk diuraikan secara alami. Untuk
menguraikan sampah plastik itu sendiri membutuhkan kurang lebih 80 tahun agar
dapat terdegradasi secara sempurna. Oleh karena itu penggunaan bahan plastik
dapat dikatakan tidak bersahabat ataupun konservatif bagi lingkungan apabila
digunakan tanpa menggunakan batasan tertentu. Sedangkan di dalam kehidupan
sehari-hari, khususnya kita yang berada di Indonesia, penggunaan bahan plastik
bisa kita temukan di hampir seluruh aktivitas hidup kita.
Salah satu
perusahaan penghasil plastik di Medan ialah PT. Duta Plastik Industri yang
terletak di jalan Setia Jadi Nomor 3 Medan, Provinsi Sumatera Utara. Saat ini, penggunaan plastik sangat
luas karena plastik merupakan bahan
yang praktis,
kuat, tahan lama, ringan dan dapat dibentuk apa saja. Setiap proses produksi pasti menghasilkan sisa buangan
berupa limbah. Limbah adalah bahan sisa pada suatu kegiatan atau proses
produksi. Limbah dapat berupa padatan, cairan, atau gas. Air dapat dikatakan
sebagai limbah pencemar apabila terdapat perubahan jumlah padatan, warna, bau,
rasa, konduktivitas,
turbiditas, dan temperatur.
Limbah pabrik tersebut menjadi permasalahan lingkungan karena kuantitas
maupun tingkat bahayanya mengganggu kehidupan makhluk hidup dan dapat mencemari perairan bila limbah pabrik tersebut
langsung di buang ke perairan tanpa adanya IPAL (Instalasi Pengolahan Air
Limbah) dari pabrik tersebut. Pabrik plastik ini sudah mempunyai IPAL sehingga
limbah yang dihasilkan oleh pabrik ini dapat langsung dibuang ke lingkungan.
Tujuan utama pengolahan air limbah
ialah untuk mengurangi kandungan bahan pencemar di dalam air terutama senyawa
organik, padatan tersuspensi, mikroba patogen dan senyawa organik yang tidak
dapat diuraikan oleh mikroorganisme yang ada dialam. Menurut Cherimisinoff
(2002), pengolahan air limbah dapat dibagi menjadi 5 tahap, yaitu :
1.
Pengolahan awal (Pre-treatment),
2.
Pengolahan tahap pertama (Premary Treatment),
3.
Pengolahan tahap kedua (Secondary Treatment),
4.
Pengolahan tahap ketiga (Tertiery Treatment), dan
5. Pengolahan Lumpur (Sludge Treatment).
Tujuan
dan Manfaat Penulisan
Adapun
tujuan dari penulisan ini adalah untuk dapat menganalisis dampak lingkungan
yang disebabkan oleh kegiatan yang ada di pabrik, untuk memberikan masukan
kepada instansi terkait mengenai dampak lingkungan terhadap limbah yang
dihasilkan, dan untuk mengevaluasi dampak yang mungkin terjadi.
Adapun manfaat dari penulisan tugas ini adalah
sebagai sumber informasi kepada instansi terkait, sumber bacaan bagi pihak yang
membutuhkan, dan sebagai salah satu syarat untuk memenuhi Sistem Kredit
Semester (SKS).
TINJAUAN PUSTAKA
Plastik merupakan material yang sangat akrab
dalam kehidupan manusia. Kemajuan teknologi plastik membuat aktivitas produksi
plastik terus meningkat. Hampir setiap produk menggunakan plastik sebagai
kemasan atau bahan dasar. Nama plastik mewakili ribuan bahan yang berbeda
sifat fisis, mekanis, dan kimia. Secara garis besar plastik dapat digolongkan
menjadi dua golongan besar, yakni plastik yang bersifat thermoplastic dan yang
bersifat thermoset (Efendi, dkk., 2010).
Thermoplastic
dapat dibentuk kembali dengan mudah dan diproses menjadi bentuk lain, sedangkan
jenis thermoset bila telah mengeras tidak dapat dilunakkan kembali. Plastik
yang paling umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah dalam bentuk
thermoplastic. Seiring dengan perkembangan teknologi,
kebutuhan akan plastik terus meningkat. Data BPS tahun 1999 menunjukkan bahwa
volume perdagangan plastik impor Indonesia, terutama polipropilena (PP) pada
tahun 1995 sebesar 136.122,7 ton sedangkan pada tahun 1999 sebesar 182.523,6
ton, sehingga dalam kurun waktu tersebut terjadi peningkatan sebesar 34,15%.
Jumlah tersebut diperkirakan akan terus meningkat pada tahun-tahun selanjutnya.
Sebagai konsekuensinya, peningkatan limbah plastik pun tidak terelakkan (Lestari, 2009).
Menurut Hartono
(1998) komposisi sampah atau limbah plastik yang dibuang oleh setiap rumah
tangga adalah 9,3% dari total sampah rumah tangga. Di Jabotabek rata-rata
setiap pabrik menghasilkan satu ton limbah plastik setiap minggunya. Jumlah
tersebut akan terus bertambah, disebabkan sifat-sifat yang dimiliki plastik,
antara lain tidak dapat membusuk, tidak terurai secara alami, tidak dapat
menyerap air, maupun tidak dapat berkarat, dan pada akhirnya akhirnya menjadi
masalah bagi lingkungan (Pratiwi, dkk., 2013).
Dampak Limbah Plastik
Dampak yang
ditimbulkan dari limbah plastik yang dihasilkan dari pabrik ini sangat banyak.
Sampah plastik mencemari tanah, air tanah dan hewan bawah tanah. Racun-racun
dari partikel plastik yang masuk ke dalam tanah akan membunuh hewan-hewan
pengurai di dalam tanah seperti cacing sehingga menurunkan kesuburan tanah
karena plastik juga menghalangi sirkulasi udara di dalam tanah dan ruang gerak
makhluk tersebut yang mampu meyuburkan tanah. Sampah plastik juga mengganggu
jalur air yang teresap ke dalam tanah sehingga resapan air menjadi terhambat.
Sampah plastik juga mencemari sungai. Sampah plastik yang menyumbat aliran air
sungai menyebabkan banjir di musim penghujan. Selain itu, sampah plastik
mengeluarkan zat yang berbahaya bagi organisme-organisme hewan di air sehingga
menyebabkan hewan-hewan tersebut mati. Sampah platik yang dibiarkan menumpuk
akan menjadi tempat bersarangnya berbagai macam penyakit. Oleh sebab itu perlu
adanya penanganan lebih lanjut terhadap masalah ini (Efendi, dkk., 2010)
Pengelolaan
Limbah Plastik Dengan Metode Recycle (Daur Ulang)
Pemanfaatan
limbah plastik merupakan upaya menekan pembuangan plastik seminimal mungkin dan
dalam batas tertentu menghemat sumber daya dan mengurangi ketergantungan bahan
baku impor. Pemanfaatan limbah plastik dapat dilakukan dengan pemakaian kembali
(reuse) maupun daur ulang (recycle). Di Indonesia, pemanfaatan limbah plastik
dalam skala rumah tangga umumnya adalah dengan pemakaian kembali dengan
keperluan yang berbeda, misalnya tempat cat yang terbuat dari plastik digunakan
untuk pot atau ember. Sisi jelek pemakaian kembali, terutama dalam bentuk
kemasan adalah sering digunakan untuk pemalsuan produk seperti yang seringkali
terjadi di kota-kota besar (Wahyono dan
Sudarno, 2012).
Pemanfaatan
limbah plastik dengan cara daur ulang umumnya dilakukan oleh industri. Secara
umum terdapat empat persyaratan agar suatu limbah plastik dapat diproses oleh
suatu industri, antara lain limbah harus dalam bentuk tertentu sesuai kebutuhan
(biji, pellet, serbuk, pecahan), limbah harus homogen, tidak terkontaminasi,
serta diupayakan tidak teroksidasi. Untuk mengatasi masalah tersebut, sebelum
digunakan limbah plastik diproses melalui tahapan sederhana, yaitu pemisahan,
pemotongan, pencucian, dan penghilangan zat-zat seperti besi dan sebagainya (Pratiwi,
dkk., 2013).
Terdapat hal
yang menguntungkan dalam pemanfaatan limbah plastik di Indonesia dibandingkan
negara maju. Hal ini dimungkinkan karena pemisahan secara manual yang dianggap
tidak mungkin dilakukan di negara maju, dapat dilakukan di Indonesia yang
mempunyai tenaga kerja melimpah sehingga pemisahan tidak perlu dilakukan dengan
peralatan canggih yang memerlukan biaya tinggi. Kondisi ini memungkinkan
berkembangnya industri daur ulang plastik di Indonesia. Pemanfaatan plastik daur ulang dalam pembuatan kembali barang-barang
plastik telah berkembang pesat. Hampir seluruh jenis limbah plastik (80%) dapat
diproses kembali menjadi barang semula walaupun harus dilakukan pencampuran
dengan bahan baku baru dan additive untuk meningkatkan kualitas. Menurut Hartono (1998) empat jenis limbah plastik yang
populer dan laku di pasaran yaitu polietilena (PE), High Density Polyethylene
(HDPE), polipropilena (PP), dan asoi
(Lestari, 2009).
Di Indonesia,
plastik daur ulang sebagian besar dimanfaatkan kembali sebagai produk semula
dengan kualitas yang lebih rendah. Pemanfaatan plastik daur ulang sebagai bahan
konstruksi masih sangat jarang ditemui. Pada tahun 1980-an, di Inggris dan Italia plastik daur ulang telah digunakan untuk membuat
tiang telepon sebagai pengganti tiang-tiang kayu atau besi. Di Swedia plastik
daur ulang dimanfaatkan sebagai bata plastik untuk pembuatan bangunan
bertingkat, karena ringan serta lebih kuat dibandingkan bata yang umum dipakai. Pemanfaatan plastik daur ulang dalam
bidang komposit kayu di Indonesia masih terbatas pada tahap penelitian. Ada dua
strategi dalam pembuatan komposit kayu dengan memanfaatkan plastik, pertama
plastik dijadikan sebagai binder sedangkan kayu sebagai komponen utama; kedua
kayu dijadikan bahan pengisi/filler dan plastik sebagai matriksnya (Efendi, dkk., 2010).
PEMBAHASAN
Plastik
adalah salah satu bahan yang dapat kita temui di hampir setiap barang. Mulai
dari botol minum, TV, kulkas, pipa pralon, plastik laminating, gigi palsu,
compact disk (CD), kutex (pembersih kuku), mobil, mesin, alat-alat militer
hingga pestisida. Oleh karena itu kita bisa hampir dipastikan pernah
menggunakan dan memiliki barang-barang yang mengandung Bisphenol-A. Salah satu
barang yang memakai plastik dan mengandung Bisphenol A adalah industri makanan
dan minuman sebagai tempat penyimpan makanan, plastik penutup makanan, botol
air mineral, dan botol bayi walaupun sekarang sudah ada botol bayi dan
penyimpan makanan yang tidak mengandung Bisphenol A sehingga aman untuk dipakai
makan. Satu tes membuktikan 95% orang pernah memakai barang mengandung
Bisphenol-A.Plastik dipakai karena ringan, tidak mudah pecah, dan murah. Akan
tetapi plastik juga beresiko terhadap lingkungan dan kesehatan keluarga kita.
Oleh
karena itu kita harus mengerti plastik-plastik yang aman untuk kita pakai. Plastik
banyak kegunaannya tetapi polimer sintetik plastik sangat sulit dirombak secara
alamiah. Hal ini mengakibatkan limbah yang plastik semakin menumpuk dan
dapat mencemari lingkungan. Plastik terdiri atas berbagai senyawa yang
terdiri dari polietilen, polistiren, dan polivinil klorida. Bahan-bahan
tersebut bersifat inert dan rekalsitran. Senyawa lain penyusun plastik yang
disebut plasticize s terdiri: (a) ester asam lemak (oleat, risinoleat, adipat,
azelat, dan sebakat serta turunan minyak tumbuhan, (b) ester asam phthalat,
maleat, dan fosforat. Bahan tambahan untuk pembuatan plastik seperti Phthalic
Acid Esters (PAEs) dan Polychlorinated Biphenyls (PCBs) sudah diketahui sebagai
karsinogen yang berbahaya bagi lingkungan walaupun dalam konsentrasi rendah.
Berbagai
upaya menekan penggunaan kantong plastik pun dilakukan oleh beberapa negara.
Salah satunya dengan melakukan upaya kampanye untuk menghambat terjadinya
pemanasan global. Sampah kantong plastik telah menjadi musuh serius bagi
kelestarian lingkungan hidup. Jika sampah bekas kantong plastik itu dibiarkan
di tanah, dia akan menjadi polutan yang signifikan. Kalau dibakar,
sampah-sampah itu pun akan secara signifikan menambah kadar gas rumah kaca di
atmosfer.
Untuk
menanggulangi sampah plastik beberapa pihak mencoba untuk membakarnya.
Tetapi proses pembakaran yang kurang sempurna dan tidak mengurai
partikel-partikel plastik dengan sempurna maka akan menjadi dioksin di udara.
Bila manusia menghirup Dioksin ini manusia akan rentan terhadap berbagai
penyakit di antaranya kanker, gangguan sistem syaraf,hepatitis, pembengkakan
hati, dan gejala depresi. Kita memang tidak mungkin bisa menghapuskan
penggunaan kantong plastik 100%, tetapimungkin ada beberapa cara untuk
mengatasinya. Kita bisa mulai mengurangi sampah plastik kita dengan bukan tidak
memakainya tetapi menggantikannya:
- Jangan pakai kantong plastik untuk belanja. Bawa sendiri tas belanjaan yang dapat selalu dipergunakan lagi.
- Jangan langsung buang botol plastik sesudah minum. Isi air lagi dan pakai kembali walaupun jangan terlalu banyak isi ulang. Kira-kira 5 kali pakai masihoke. Untuk yang biasa minum di mobil, siapkan selalu botol yang sudah diisi penuh agar tidak usah beli lagi.
- Lebih baik lagi beli botol minum jadi bisa selalu diisi ulang dan tidak usah beli botol air mineral lagi.
- Di negara barat banyak cafe seperti Starbucks sudah mulai membolehkan customer membawa sendiri cangkir atau lebih baik thermos untuk diisi kopi. Kantong plastik masih bisa digunakan lagi. Tapi kalau gelas plastik hanya bisa sekali saja.
Solusi terbaik dalam penanggulangan
sampah plastik adalah dengan melakukan daur ulang dan menguraikannya. Saat ini
sudah ditemukan cara yang tepat dan singkat untuk menguraikan sampah plastik.
Yaitu dengan ditemukannya bakteri Pseudomonas sp dan bakteri Sphingomonas
sp yang dapat menguraikan sampah plastik dalam kurun waktu singkat berkisar
kurang lebih 3 bulan.
Bahaya kantong plastik berwarna
Yaitu : Kantong plastik kresek berwarna terutama yang hitam kebanyakan
merupakan produk daur ulang. Karena itu konsumen diharapkan berhati-hati dan
tidak digunakan kantung plastik untuk mewadahi makanan. Dalam proses daur ulang
tersebut juga ditambahkan berbagai bahan kimia yang menambah dampak bahaya bagi
kesehatan. Disarankan agar masyarakat tidak menggunakan kantung plastik kresek
warna hitam atau daur ulang untuk mewadahi langsung makanan siap santap.
Menurut JECFA-FAO/WHO monomer stiren
tidak mengakibatkan gangguan kesehatan jika residunya tidak melebihi 5.000
bagian per juta.
Meski demikian, masyarakat dihimbau agar tidak menggunakan kemasan styrofoam dalam microwave, tidak menggunakan kemasan styrofoam yang rusak atau berubah bentuk untuk mewadahi makanan berminyak/berlemak apalagi dalam keadaan panas.Sementara itu, hasil pengawasan BPOM terhadap kemasan makanan yang terbuat dari plastik polivinil klorida (PVC) menunjukkan bahwa monomer vinil klorida (VCM) yang tidak ikut bereaksi dapat terlepas ke dalam makanan terutama yang berminyak/berlemak atau mengandung alkohol terlebih dalam keadaan panas.Dalam pembuatan PVC ditambahkan penstabil seperti senyawa timbal (Pb), kadmium (Cd), timah putih (Sn) atau lainnya, untuk mencegah kerusakan PVC. Kadang-kadang agar lentur atau fleksibel ditambahkan senyawa ester flalat, ester adipat. Residu VCM terbukti mengakibatkan kanker hati, senyawa Pb merupakan racun bagi ginjal dan saraf, senyawa Cd merupakan racun bagi ginjal dan dapat mengakibatkan kaker paru-paru.
Meski demikian, masyarakat dihimbau agar tidak menggunakan kemasan styrofoam dalam microwave, tidak menggunakan kemasan styrofoam yang rusak atau berubah bentuk untuk mewadahi makanan berminyak/berlemak apalagi dalam keadaan panas.Sementara itu, hasil pengawasan BPOM terhadap kemasan makanan yang terbuat dari plastik polivinil klorida (PVC) menunjukkan bahwa monomer vinil klorida (VCM) yang tidak ikut bereaksi dapat terlepas ke dalam makanan terutama yang berminyak/berlemak atau mengandung alkohol terlebih dalam keadaan panas.Dalam pembuatan PVC ditambahkan penstabil seperti senyawa timbal (Pb), kadmium (Cd), timah putih (Sn) atau lainnya, untuk mencegah kerusakan PVC. Kadang-kadang agar lentur atau fleksibel ditambahkan senyawa ester flalat, ester adipat. Residu VCM terbukti mengakibatkan kanker hati, senyawa Pb merupakan racun bagi ginjal dan saraf, senyawa Cd merupakan racun bagi ginjal dan dapat mengakibatkan kaker paru-paru.
Upaya Penanggulangan Llimbah Plastik
antara lain yaitu :
1. Daur Ulang
Penanganan limbah plastik yang
paling ideal adalah dengan mendaur ulang. Akan tetapi, hal itu tampaknya tidak
mudah dijalankan. Proses daur ulang melalui tahap-tahap pengumpulan, pemisahan
(sortir), pelelehan, dan pembentukan ulang. Tahapan paling sulit adalah
pengumpulan dan pemisahan. Kedua tahapan ini akan lebih mudah dilakukan jika
masyarakat dengan disiplin ikut berpartisipasi, yaitu ketika membuang sampah
plastik. Dewasa ini, plastik yang cukup banyak didaur ulang adalah jenis HDPE
dan botol-botol plastik.
2.
Incinerasi
Cara
lain untuk mengatasi limbah plastik adalah dengan membakarnya pada suhu tinggi
(incinerasi). Limbah plastik mempunyai nilai kalor yang tinggi, sehingga dapat
digunakan sebagai sumber tenaga untuk pembangkit listrik. Beberapa pembangkit
listrik menggunakan batu bara yang dicampur dengan beberapa persen ban bekas.
Akan tetapi, pembakaran sebenarnya menimbulkan masalah baru, yaitu pencemaran
udara. Pembakaran plastik seperti PVC menghasilkan gas HCl yang bersifat
korosif. Pembakaran ban bekas menghasilkan asap hitam yang sangat pekat dan
gas-gas yang bersifat korosif. Gas-gas korosif ini membuat incinerator cepat
terkorosi. Polusi yang paling serius adalah dibebaskannya gas dioksin yang
sangat beracun pada pembakaran senyawa yang mengandung klorin seperti PVC.
Untuk itu, pembakaran harus dilakukan dengan pengontrolan yang baik untuk
mengurangi polusi udara.
3.
Plastik
Biodegradable
Sekitar
separo dari penggunaan plastik adalah untuk kemasan. Oleh karena itu, sangat
baik jika dapat dibuat plastik yang bio- atau fotodegradable. Hal itu telah
diupayakan dan telah dipasarkan. Kebanyakan plastik biodegradable berbahan
dasar zat tepung. Sayangnya, plastik jenis ini lebih mahal dan kelihatannya
masyarakat enggan untuk membayar lebih.
Untuk
mengurangi pencemaran plastik antara lain yaitu :
1.
Kurangi penggunaan plastic
2.
Sampah plastik harus dipisahkan
dengan sampah organik, sehingga dapat didaur ulang.
3.
Jangan membuang sampah plastik
sembarangan.
4.
Sampah plastik jangan dibakar.
Untuk
menghindari bahaya keracunan akibat penggunaan plastik :
1. Gunakan kemasan makanan yang lebih
aman, seperti kaca.
2. Gunakan penciuman, jika
makanan/minumam bau plastik jangan dikonsumsi.
3. Cegah penggunaan botol susu bayi dan
cangkir bayi (dengan lubang penghisapnya) berbahanpolycarbonate, cobalah pilih
dan gunakan botol susu bayi berbahan kaca, polyethylene, ataupolypropylene.
Gunakanlah cangkir bayi berbahan stainless steel, polypropylene, atau polyethylene.
Untuk dot, gunakanlah yang berbahan silikon, karena tidak akan mengeluarkan zat
karsinogenik sebagaimana pada dot berbahanlatex.
4.
Janganlah menyimpan air minum atau
pun makanan dalam keadaan panas.
5. Hindari penggunaan botol plastik
untuk menyimpan air minum. Jika penggunaan botol plastik berbahan PET (kode 1)
dan HDPE (kode 2), tidak dapat dicegah, gunakanlah hanya sekali pakai dan
segera dihabiskan karena pelepasan senyawa antimoni trioksida terus meningkat
seiring waktu. Bahan alternative yang dapat digunakan adalah botolstainless
steel atau kaca.
6. Cegahlah memanaskan makanan yang
dikemas dalam plastik, khususnya pada microwave oven, yang dapat mengakibatkan
zat kimia yang terdapat pada plastik tersebut terlepas dan bereaksi dengan
makanan lebih cepat. Hal ini pun dapat terjadi bila kemasan plastik digunakan
untuk mengemas makanan berminyak atau berlemak.
PENUTUP
Limbah
plastik merupakan bahan sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu
proses. Limbah plastik merupakan limbah yang jumlahnya semakain bertambah
karena ketergantungan manusia akan plastic yang bahan bakunya terdapat di bumi.
Plastik tidak dapat terurai dengan cepat. Waktu yang diperlukan plastik agar
terurai yaitu 1000 tahunan. Limbah tidak dapat dihilangkan tetapa dapat
dikurangi dengan banyak cara, yaitu dengan mendaur ulang sampah, plastik dibuat
plastik yang bio- atau fotodegradable dan juga dibakar pada suhu yang sangat
tinggi. Marilah kita sebagai manusia yang diciptakan
Tuhan, kita harus mengusahakan dan memanfaatkan. Dan janganlah membuat Bumi ini
tercemar oleh limbah plastik.
DAFTAR PUSTAKA
Efendi, dkk. 2010. Pemanfaatan Sampah Plastik dan Limbah Marmer Sebagai Bahan Baku Ornamen Bangunan Untuk Solusi Penanganan Pencemaran Lingkungan. Universitas Negeri Malang, Malang.
Lestari, B.A. 2009. Potensi
Penggunaan Kembali Air Limbah : Studi Kasus Industri Polipropilena PT. Tripolyta
Indonesia, TBK. [Tesis]. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Pratiwi, dkk. 2013. Sistem
Pengolahan Sampah Plastik Terintegrasi dengan Pendekatan Ergonomi Total Guna
Meningkatan Peran Serta Masyarakat (Studi Kasus : Surabaya). Teknik Industri.
ITS, Surabaya.
Wahyono, E.H dan Sudarno, N.2012.
Pengelolaan Sampah Plastik: Aneka Kerajinan dari Sampah Plastik. Yapeka, Bogor.



0 komentar:
Posting Komentar