APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DALAM PENENTUAN KESESUAIAN KAWASAN KERAMBA JARING TANCAP DAN
RUMPUT LAUT DI PERAIRAN PULAU BUNGURAN
KABUPATEN NATUNA
OLEH :
ELVIS PATRIC PRESLY
110302020
MANAJEMEN
SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
MEDAN
2013
BAB I
PENDAHULUAN
Salah satu Kabupaten
yang terdapat di propinsi Kepulauan Riau dengan wilayah pesisir yang cukup luas
adalah Kabupaten Natuna. Kabupaten ini memiliki beberapa gugusan pulau, yaitu;
gugusan Jemaja, gugusan Anambas dan gugusan Bunguran. Gugusan kepulauan
Bunguran terdiri dari Pulau Bunguran Besar, Pulau Midai, Pulau Subi dan Pulau
Serasan (Bappeda Natuna, 2007). Sebagaimana daerah kepulauan lainnya di
Indonesia, beberapa komponen masyarakat yang tinggal dan berdomisili di wilayah
Kabupaten Natuna menggantungkan hidupnya dengan melakukan aktifitas di bidang
perikanan, baik itu penangkapan maupun budidaya. Aktifitas ini umumnya memliki
sentra didesa-desa yang terdapat diwilayah pesisir. Diketahui perkembangan
usaha Keramba Jaring Tancap cukup signifikan ditengah masyarakat, namun
diketahui bahwa penempatan keramba tersebut masih belum tertata dengan baik,
sehingga sering terjadi benturan kepentingan. Di lain pihak dapat dikatakan
bahwa aktifitas usaha yang dilakukan di wilayah pesisir haruslah sesuai dengan
daya dukung lingkungan wilayah pesisir tersebut. Jika hal ini tidak sesuai akan
dapat menimbulkan permasalahan-permasalahan baru, baik itu dari usaha itu
sendiri maupun dari factor lingkungan. Hal ini sesuai dengan pendapat Bengen,
(2002) pembangunan wilayah pesisir sudah selayaknya berpegang kepada kondisi
ekosistem tempatan dan sumberdaya yang mendukung. Dalam melakukan kedua usaha
ini masyarakat tidak memilih lokasi yang sesuai dengan prasyarat, baik itu daya
dukung lingkungan maupun peruntukkan wilayah. Faktor yang menjadi penentu untuk
saat sekarang ini lebih kepada kedekatan dengan pemukiman. Padahal dalam usaha
KJT dan budidaya rumput laut terdapat beberapa parameter yang menjadi kunci
keberhasilan. Selain itu seperti telah dipaparkan diatas, bahwa wilayah pesisir
itu memiliki beberapa peruntukan. Oleh karenanya sangat perlu dilakukan
pengidentifikasian lokasi-lokasi yang cocok dan layak secara parameter guna
pengembangan usaha KJT dan budidaya rumput laut ini.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukkan pribadi manusia, yang sangat berperan dalam membentuk baik atau buruknya
pribadi manusia. Pemerintah Pusat bersama dengan Pemerintah Daerah pun sangat serius menangani bidang pendidikan, dengan sistem pendidikan yang baik diharapkan muncul generasi penerus bangsa yang berkualitas. Dalam
proses pendidikan di sekolah, guru
memegang tugas ganda yaitu sebagai pengajar
dan pendidik. Sebagai pengajar, guru
bertugas menuangkan sejumlah bahan pelajaran kepada anak didik. Sebagai
pendidik, guru bertugas
membimbing dan membina anak didik
agar menjadi manusia mandiri. Guru
memegang
peranan sentral dalam proses belajar
mengajar, mutu pendidikan di suatu
sekolah sangat ditentukan oleh kemampuan yang
dimiliki seorang guru dalam menjalankan tugasnya (Puspita, 2009).
Sistem Informasi Geografis atau Georaphic Information Sistem (GIS) merupakan suatu
sistem informasi yang berbasis
komputer,
dirancang untuk bekerja dengan menggunakan data yang memiliki informasi spasial
(bereferensi keruangan). Sistem ini mengcapture, mengecek, mengintegrasikan,
memanipulasi, menganalisa, dan
menampilkan data yang secara spasial mereferensikan kepada kondisi bumi. Teknologi SIG
mengintegrasikan operasi-operasi umum
database,
seperti query dan analisa statistik, dengan kemampuan visualisasi dan analisa yang unik
yang dimiliki oleh pemetaan. Kemampuan
inilah yang membedakan SIG dengan Sistem Informasi lainya yang membuatnya menjadi
berguna berbagai kalangan untuk
menjelaskan
kejadian, merencanakan strategi, dan memprediksi apa yang terjadi (Asmaranto, 2010).
SIG mempunyai kemampuan untuk menghubungkan berbagai data pada suatu titik tertentu di bumi,
menggabungkannya, menganalisa dan akhirnya memetakan hasilnya. Data yang akan diolah
pada SIG merupakan data spasial yaitu sebuah data yang berorientasi geografis dan merupakan lokasi yang memiliki
sistem koordinat tertentu, sebagai dasar referensinya. Sehingga aplikasi SIG dapat menjawab beberapa pertanyaan seperti; lokasi,
kondisi, trend, pola dan pemodelan. Kemampuan inilah yang membedakan SIG dari sistem informasi lainnya (Hartoyo, dkk., 2010).
Sistem informasi geografis (SIG) pertama pada tahun
1960 yang bertujuan untuk menyelesaikan
permasalahan geografis. 40 tahun kemudian perkembangan GIS berkembang tidak hanya bertujuan untuk
menyelesaikan permasalahan geografi saja tetapi sudah merambah ke berbagai bidang seperti:
•
analisis penyakit epidemik (demam berdarah),
•
analisis kejahatan (kerusuhan),
•
navigasi dan vehicle routing (lintasan terpendek),
•
analisis bisnis (sistem stock dan distribusi),
•
urban (tata kota) dan regional planning (tata ruang wilayah),
•
peneliti: spatial data exploration,
•
utility (listrik, PAM, telpon) inventory and management,
•
pertahanan (military simulation), dll
(Husein, 2006).
Seperti di
Negara-negara yang lain, di Indonesia
pengembangan
SIG dimulai di lingkungan pemerintahan dan militer. Perkembangan SIG menjadi pesat
semenjak di ditunjang oleh sumberdaya
yang bergerak di lingkungan akademis (Aini, 2007).
Telah dijelaskan diawal
bahwa SIG adalah suatu kesatuan sistem yang terdiri dari berbagai komponen, tidak hanya perangkat keras
komputer beserta dengan perangkat lunaknya saja akan tetapi
harus tersedia data geografis yang benar dan
sumberdaya
manusia untuk melaksanakan perannya dalam memformulasikan dan menganalisa persoalan yang menentukan keberhasilan SIG (Hartoyo, dkk.,
2010).
Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan suatu dunia nyata yang
dapat direpresentasikan di atas monitor komputer. Sebagaimana halnya sebuah lukisan di atas sehelai kertas
dapat merepresentasikan sesosok manusia.
Akan tetapi SIG mempunyai kemampuan
lebih dan fleksibel dibandingkan dengan
lukisan di atas kertas ataupun
lembaran-lembaran peta.
Pada masa sekarang, saat segala sesuatu
di dunia ini berkembang dengan sedemikian
pesatnya, informasi memegang
peranan yang sangat penting di berbagai
kalangan masyarakat. Dalam hal ini,
informasi menjadi sebuah pijakan atau
dasar
bagi seseorang untuk melakukan suatu
tindakan atau membuat sebuah keputusan.
Maka kemudian berkembanglah
suatu sistem teknologi informasi
yang menjadi sarana penunjang untuk
mengolah dan menyajikan informasi
secara
cepat, mudah dimengerti dan aplikatif.
Salah satu dari sekian banyak jenis
teknologi informasi yang berkembang
dewasa ini adalah Geographic
Information System (GIS)
atau
dalam bahasa Indonesia sering disebut
dengan Sistem Informasi Geografis
(SIG) (Puspita,
2009).
Teknologi
Sistem Informasi Geografi (SIG) telah banyak digunakan manfaatnya untuk meningkatkan komunikasi dan
kolaborasi dalam pengambilan keputusan (decision making),
pengelolaan aset aset
dan sumberdaya secara efektif, meningkatkan
alur kerja secara efisien, serta digunakan dalam perbaiki akses suatu informasi. SIG yang
komprehensif mencakup berbagai penggunaan,
antara
lain untuk kompilasi dataset geografis, pembuatan alur kerja dan kontrol kualitas ‘authoring’ peta dan model-model analitik, serta untuk
mendokumentasikan metode metode kerja. SIG yang komprehensif akan menyediakan sarana atau media yang lengkap untuk pengelolaan, visualisasi, serta sebagai sarana mengkomunikasikan suatu fenomena yang dikaji (Hartoyo, dkk.,
2010).
Ada beberapa alasan yang mendasari mengapa perlu menggunakan SIG, menurut Anon (2003) dalam As Syakur (2007), alasan yang mendasarinya adalah:
1.
SIG menggunakan data spasial maupun atribut secara terintergarsi
2.
SIG dapat memisahkan antara bentuk presentasi dan basis data
3.
SIG memiliki kemampuan menguraikan unsur-unsur yang ada dipermukaan
bumi
ke dalam beberapa layer atau coverage data spasial
4.
SIG memiliki kemampuan yang sangat baik dalam menvisualisasikan data
spasial
berikut atributnya
5.
Semua operasi SIG dapat dilakukan secara interaktif
6.
SIG dengan mudah menghasilkan peta -peta tematik
7.
SIG sangat membantu pekerjaan yang erat kaitanya dengan bidang spasial dan
geoinformatika (Aini, 2007).
Sebagian besar data yang akan ditangani dalam SIG
merupakan data spasial yaitu
sebuah data yang berorientasi geografis, memiliki sistem koordinat tertentu sebagai dasar referensinya dan
mempunyai dua bagian penting yang membuatnya
berbeda
dari
data lain, yaitu informasi lokasi (spasial) dan informasi deskriptif (attribute) yang dijelaskan berikut ini:
1. Informasi lokasi (spasial), berkaitan dengan suatu koordinat baik koordinat Geografi (lintang
dan bujur) dan koordinat
XYZ, termasuk diantaranya informasi datum dan proyeksi.
2. Informasi deskriptif (atribut) atau informasi non spasial, suatu lokasi yang memiliki beberapa keterangan yang berkaitan dengannya, contohnya: jenis vegetasi, populasi, luasan, kode pos, dan
sebagainya (Hartoyo, dkk., 2010).
ArcView GIS merupakan salah satu perangkat lunak dekstop Sistem Informasi Geografis dan pemetaan
yang telah dikembangkan oleh ESRI.
Dengan ArcView GIS, pengguna dapat
memiliki kemampuan-kemampuan untuk melakukan visualisasi meng-explore, menjawab query (baik basis
data spasial maupun
non spasial), menganalisis data
secara geografis dan sebagainya (Taufik, 2011).
Ada tiga bentuk
penyajian data spasial dalam ArcView, yaitu bentuk titik (point), bentuk garis
(polyline) dan bentuk area (polygon). Masing-masing bentuk ini mempunyai fungsi
sendiri-sendiri. Proses digitasi memerlukan suatu data dasar (peta), dimana
data dasar tersebut dapat dipilah-pilah sehingga berguna dalam melakukan proses
analisis selanjutnya (As-syakur, 2006).
BAB III
METODE
PENELITIAN
Yang
dikatakan bahan dalam penelitian ini adalah data. Data yang dipakai berupa data
sekunder dan data primer. Data sekunder terdiri dari; kondisi umum wilayah dan
kondisi aktifitas yang sedang berlangsung. Data primer terdiri dari data
spasial dan hasil pengukuran dilapangan (raster dan vector), selain itu
digunakan Citra satelit Landsat 5 TM Path/Row 123/57 direkam pada tahun 2002
dan Peta digital kedalaman perairan Pulau Bunguran serta Peta Laut Natuna,
Dishidros TNI AL. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
survai. Proses penentuan kesesuaian kawasan tersebut dilakukan dengan
menggunakan operasi spasial dengan memanfaatkan aplikasi SIG. Operasi spasial
tersebut merupakan operasi tumpang susun (overlay), dalam prosesnya operasi
tumpang susun adalah adalah suatu proses penyatuan data spasial dan merupakan
salah satu fungsi efektif dalam SIG yang digunakan dalam analisa keruangan.
Sedangkan metode yang digunakan adalah weighted overlay (ESRI, 2007). Weighted
overlay merupakan sebuah teknik untuk menerapkan sebuah skala penilaian untuk
membedakan dan menidaksamakan input menjadi sebuah analisa yang terintegrasi.
Weighted overlay memberikan pertimbangan terhadap faktor atau kriteria yang ditentukan
dalam sebuah proses pemilihan kesesuaian.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pelaksanaan penelitian
dilakukan dari bulan Juli sampai dengan Desember 2008.
Penelitian ini dilakukan di 9 Desa yang ada di Pulau Bunguran, Kabupaten
Natuna. Adapun desa yang menjadi lokasi kegiatan tersebut adalah : Desa
Pengadah, Desa Kelanga, Desa Tanjung, Desa Sepempang, Desa Cemaga, Desa Sabang
Mawang, Desa Sededap, Desa Pulau Tiga dan Desa Kelarik. Untuk lebih jelasnya
dapat dilahat pada Gambar 2.
Gambar
2. Lokasi penelitian
Dari hasil analisa spasial dengan
menggunakan metode weighted overlay diperoleh tiga kesesuaian kawasan KJT dan
Rumput Laut yaitu: sangat sesuai, sesuai dan tidak sesuai. Gambar 3 berikut ini
memvisualisasikan sebaran kawasan kesesuaian di perairan Pulau Bunguran.
Gambar
3. Kelas kesesuaian kawasan KJT dan Rumput Laut
Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa
dominansi kesesuai kawasan berada pada kelas sesuai yaitu sebesar 49,4%,
kemudian kelas sangat sesuai sebesar 31,1% dan tidak sesuai sebesar 19,5%.
Tabel berikut ini memaparkan luas dan persentase kesesuaian kawasan di perairan
Pulau Bunguran.
Tabel Luas dan persentase kesesuaian kawasan KJT dan Rumput Laut
|
Kelas
Kesesuaian
|
Luas
(Ha)
|
Persentase
|
|
Tidak
Sesuai
|
30.174,3
|
19,5%
|
|
Sesuai
|
76.491,63
|
49,4%
|
|
Sangat
Sesuai
|
48.193,92
|
31,1%
|
|
Jumlah
|
154.859,9
|
100,0%
|
Jika dominansi kelas kesesuaian kawasan
berada pada kelas sesuai dan sangat sesuai maka dapat dikatakan bahwa hampir
disepanjang garis pantai Pulau Bunguran dapat dilakukan aktifitas KJT dan
rumput laut seperti keramba jaring tancap maupun budidaya rumput laut. Berikut
ini merupakan gambaran tentang kesesuaian kawasan KJT dan Rumput Laut untuk 9
desa di Pulau Kabupaten Natuna.
1. Desa Pengadah, Kelanga,
Tanjung dan
Sepempang Hasil rekaman yang tergambar pada citra Landsat 5 TM, menyatakan pada
kawasan ini banyak mendapat gangguan atmosfir baik awan maupun kabut. Sehingga
mengganggu dalam proses interpretasi dan analisa kawasan. Hasil analisa
menunjukkan sebagian besar perairan di keempat desa tersebut layak dilakukan
aktifitas KJT dan rumput laut karena kelas kesesuaian berada pada kelas sangat
sesuai dan sesuai. Sementara beberapa kawasan (sangat kecil sekali) berada pada
kelas tidak sesuai seperti pada sekitar Pulau Sahi di Desa Tanjung dan di
sekitar Pulau Senoa, Desa Sepempang. Hal ini diakibakan karena hasil
interpolasi kedalaman yang menggeneralisasi kedalaman perairan pada sekitar
pulau-pulau tersebut.
Gambar 4. Kesesuaian kawasan KJT dan
rumput laut di perairan Desa Pengadah,
Kelanga,
Tanjung dan Sepempang
2. Desa Cemaga
Desa Cemaga memiliki
tutupan awan relatif lebih sedikit. Baik di daratan maupun diperairan. Kelas
kesesuaian kawasan yang terdapat pada perairan Desa Cemaga terdiri dari kelas
sangat sesuai, sesuai dan tidak sesuai. Kelas Sesuai mendominasi pada perairan
ini, diikuti oleh kelas sangat sesuai dan tidak sesuai. Kelas tidak sesuai
dapat ditemukan disepanjang garis pantai Tanjung Medang dan pada beberapa pulau
kecil yang berada di kawasan Desa Cemaga.
Gambar
5. Kesesuaian kawasan KJT dan rumput laut di perairan Desa Cemaga
3. Desa Pulau Tiga, Sabang Mawang dan
Sededap
Hasil siaman citra
menunjukkan beberapa bagian kawasan di Pulau Tiga tertutupi oleh awan baik
untuk daratan maupun perairannya. Dari hasil analisa kesesuaian kawasan
terlihat sebagian besar kawasan pada perairan Pulau Tiga tidak sesuai khususnya
pada bagian luar Pulau Tiga yang berada di bagian Barat Selatan dan Timur.
Namun pada perairan antar pulau (selat-selat) merupakan kawasan yang sangat
sesuai dan sesuai untuk aktifitas KJT dan rumput laut, seperti yang terlihat
pada Gambar 6.
Gambar
6. Kesesuaian kawasan KJT dan rumput laut di perairan Pulau Tiga
4. Desa Kelarik
Di perairan Desa Kelarik
sebagian besar merupakan kawasan yang cocok untuk melakukan kegiatan KJT dan
rumput laut. Dominasi kelas kesesuaian sesuai dan sangat sesuai tersebar merata
diperairannya. Kelas tidak sesuai hanya berada pada sekitar pulau-pulau kecil
yang berada dalam naungan administrasi Desa Kelarik, ketidak sesuaian
disebabkan oleh fakctor kedalaman yang menjadi pembatas kesesuaian karena
memiliki pengaruh yang paling besar diantara factor-faktor lainnya.
Gambar
7. Kesesuaian kawasan KJT dan rumput laut di perairan Desa Kelarik
BAB V
KESIMPULAN
Analisa spasial kawasan
P. Bunguran dengan menggunakan metode weighted overlay memberikan hasil bahwa
dominansi kesesuai kawasan untuk kegiatan KJT dan rumput laut berada pada kelas
sesuai yaitu sebesar 49,4%, kemudian kelas sangat sesuai sebesar 31,1% dan
tidak sesuai sebesar 19,5%. Hasil analisa untuk Desa Pengadah, Kelanga, Tanjung
dan Sepempang menunjukkan sebagian besar perairan di keempat desa tersebut
layak dilakukan aktifitas KJT dan rumput laut karena kelas kesesuaian berada
pada kelas sangat sesuai dan sesuai. Di perairan Desa Cemaga kelas sesuai
mendominasipada perairan ini, diikuti oleh kelas sangat sesuai dan tidak
sesuai. Kelas tidak sesuai dapat ditemukan disepanjang garis pantai Tanjung
Medang dan pada beberapa pulau kecil. Hasil analisa kesesuaian kawasan terlihat
sebagian besar kawasan pada perairan Pulau Tiga tidak sesuai khususnya pada
bagian luar Pulau Tiga yang berada di bagian Barat Selatan dan Timur. Namun
pada perairan antar pulau (selat-selat) merupakan kawasan yang sangat sesuai
dan sesuai untuk aktifitas KJT dan rumput laut. Di perairan Desa Kelarik
sebagian besar merupakan kawasan yang cocok untuk melakukan kegiatan KJT dan
rumput laut. Dominasi kelas kesesuaian sesuai dan sangat sesuai tersebar merata
di perairannya.
DAFTAR
PUSTAKA
Aini, A. 2007. Sistem Informasi Geografis Pengertian dan Aplikasinya.
Asmaranto,
R. 2010. Georaphic Information Sistem.
http://repository.ui.ac.id (Diakses pada
tanggal 25 Maret 2013).
As-syakur,
A. R. 2006. Pengenalan
ArcView. http://repository.ipb.ac.id (Diakses pada
tanggal 23 Maret 2013).
Bengen.
D.G., 2002. Pengelolaan Wilayah Pesisir Secara Terpadu Berkelanjutan dan Berbasis
Masyarakat. Institut Pertanian Bogor.
Hartoyo, Nugroho, Bhiworo, Khalil. 2010. Modul Sistem Informasi Geografis.
http://forestclimatecenter.org (Diakses
pada tanggal 23 Maret 2013).
Husein, R. 2006. Konsep Dasar Sistem Informasi Geografis.
http://repository.usu.ac.id (Diakses
pada tanggal 23 Maret 2013).
LAPAN.
2004. Pembangunan Ekonomi Masyarakat Tahun Anggaran tentang Implementasi dan
Pembinaan Pemanfaatan Penginderaan Jauh untuk KJ dan rumput laut (Studi Kasus:
Kesesuaian Perairan Budidaya Ikan Kerapu dengan Menggunakan Keramba Jaring
Apung di Kabupaten Situbondo).
Prahasta,
E. 2003.Sistem Informasi Geografis: Arch View Lanjut. Informatika. Bandung.
Pusat Survei Sumberdaya Alam Laut, 2005. Analisa Kesesuaian KJT dan rumput laut. Kabupaten
Kutai Timur, Provinsi
Kalimantan Timur. Cibinong.
Puspita,
Y. 2009. Penggunaan ArcView GIS 3.3
Pada Perencanaan Aplikasi Sistem
Informasi
tanggal 23 Maret 2013).
Subandar, A. 1999. Potensi Teknik Evaluasi Multi Kriteria Dalam Pengelolaan Sumberdaya Alam dan
Lingkungan Hidup.
Jurnal Sains dan Teknologi. Indonesia Vol 1 No. 5. Hal
70-80.
tanggal 25 Maret 2013).
Yayasan Gema Lingkungan Indonesia. 2008. Rencana Pengelolaan Terumbu Karang. COREMAP II,
Natuna.








0 komentar:
Posting Komentar