Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Rabu, 10 April 2013

Sistem Informasi Sumberdaya Perairan


APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DALAM PENENTUAN KESESUAIAN KAWASAN KERAMBA JARING TANCAP DAN
RUMPUT LAUT DI PERAIRAN PULAU BUNGURAN
KABUPATEN NATUNA



OLEH :


ELVIS PATRIC PRESLY
110302020








MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2013





BAB I
PENDAHULUAN

Salah satu Kabupaten yang terdapat di propinsi Kepulauan Riau dengan wilayah pesisir yang cukup luas adalah Kabupaten Natuna. Kabupaten ini memiliki beberapa gugusan pulau, yaitu; gugusan Jemaja, gugusan Anambas dan gugusan Bunguran. Gugusan kepulauan Bunguran terdiri dari Pulau Bunguran Besar, Pulau Midai, Pulau Subi dan Pulau Serasan (Bappeda Natuna, 2007). Sebagaimana daerah kepulauan lainnya di Indonesia, beberapa komponen masyarakat yang tinggal dan berdomisili di wilayah Kabupaten Natuna menggantungkan hidupnya dengan melakukan aktifitas di bidang perikanan, baik itu penangkapan maupun budidaya. Aktifitas ini umumnya memliki sentra didesa-desa yang terdapat diwilayah pesisir. Diketahui perkembangan usaha Keramba Jaring Tancap cukup signifikan ditengah masyarakat, namun diketahui bahwa penempatan keramba tersebut masih belum tertata dengan baik, sehingga sering terjadi benturan kepentingan. Di lain pihak dapat dikatakan bahwa aktifitas usaha yang dilakukan di wilayah pesisir haruslah sesuai dengan daya dukung lingkungan wilayah pesisir tersebut. Jika hal ini tidak sesuai akan dapat menimbulkan permasalahan-permasalahan baru, baik itu dari usaha itu sendiri maupun dari factor lingkungan. Hal ini sesuai dengan pendapat Bengen, (2002) pembangunan wilayah pesisir sudah selayaknya berpegang kepada kondisi ekosistem tempatan dan sumberdaya yang mendukung. Dalam melakukan kedua usaha ini masyarakat tidak memilih lokasi yang sesuai dengan prasyarat, baik itu daya dukung lingkungan maupun peruntukkan wilayah. Faktor yang menjadi penentu untuk saat sekarang ini lebih kepada kedekatan dengan pemukiman. Padahal dalam usaha KJT dan budidaya rumput laut terdapat beberapa parameter yang menjadi kunci keberhasilan. Selain itu seperti telah dipaparkan diatas, bahwa wilayah pesisir itu memiliki beberapa peruntukan. Oleh karenanya sangat perlu dilakukan pengidentifikasian lokasi-lokasi yang cocok dan layak secara parameter guna pengembangan usaha KJT dan budidaya rumput laut ini.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukkan pribadi manusia, yang sangat berperan dalam membentuk baik atau buruknya pribadi manusia. Pemerintah Pusat bersama dengan Pemerintah Daerah pun sangat serius menangani bidang pendidikan, dengan sistem pendidikan yang baik diharapkan muncul generasi penerus bangsa yang berkualitas. Dalam proses pendidikan di sekolah, guru memegang tugas ganda yaitu sebagai pengajar dan pendidik. Sebagai pengajar, guru bertugas menuangkan sejumlah bahan pelajaran kepada anak didik. Sebagai pendidik, guru bertugas membimbing dan membina anak didik agar menjadi manusia mandiri. Guru memegang peranan sentral dalam proses belajar mengajar, mutu pendidikan di suatu sekolah sangat ditentukan oleh kemampuan  yang  dimiliki  seorang  guru  dalam  menjalankan tugasnya (Puspita, 2009).
Sistem Informasi Geografis atau Georaphic Information Sistem (GIS) merupakan suatu sistem informasi yang berbasis komputer, dirancang untuk bekerja dengan menggunakan data yang memiliki informasi spasial (bereferensi keruangan). Sistem ini mengcapture, mengecek, mengintegrasikan, memanipulasi, menganalisa, dan menampilkan data yang secara spasial mereferensikan kepada kondisi bumi. Teknologi SIG mengintegrasikan operasi-operasi umum database, seperti query dan analisa statistik, dengan kemampuan visualisasi dan analisa yang unik yang dimiliki oleh pemetaan. Kemampuan inilah yang membedakan SIG dengan Sistem Informasi lainya yang membuatnya menjadi berguna berbagai kalangan untuk menjelaskan kejadian, merencanakan strategi, dan memprediksi apa yang terjadi (Asmaranto, 2010).
SIG mempunyai kemampuan untuk menghubungkan berbagai data pada suatu titik tertentu di bumi, menggabungkannya, menganalisa dan akhirnya memetakan hasilnya. Data yang akan diolah pada SIG merupakan data spasial yaitu sebuah data yang berorientasi geografis dan merupakan lokasi yang memiliki sistem koordinat tertentu, sebagai dasar referensinya. Sehingga aplikasi SIG dapat menjawab beberapa pertanyaan seperti; lokasi, kondisi, trend, pola dan pemodelan. Kemampuan inilah yang membedakan SIG dari sistem informasi lainnya (Hartoyo, dkk., 2010).
Sistem informasi geografis (SIG) pertama pada tahun 1960 yang bertujuan untuk menyelesaikan permasalahan geografis. 40 tahun kemudian perkembangan GIS berkembang tidak hanya bertujuan untuk menyelesaikan permasalahan geografi saja tetapi sudah merambah ke berbagai bidang seperti:
• analisis penyakit epidemik (demam berdarah),
• analisis kejahatan (kerusuhan),
• navigasi dan vehicle routing (lintasan terpendek),
• analisis bisnis (sistem stock dan distribusi),
• urban (tata kota) dan regional planning (tata ruang wilayah),
• peneliti: spatial data exploration,
• utility (listrik, PAM, telpon) inventory and management,
• pertahanan (military simulation), dll (Husein, 2006).
Seperti di Negara-negara yang lain, di Indonesia pengembangan SIG dimulai di lingkungan pemerintahan dan militer. Perkembangan SIG menjadi pesat semenjak di ditunjang oleh sumberdaya yang bergerak di lingkungan akademis (Aini, 2007).
Telah dijelaskan diawal bahwa SIG adalah suatu kesatuan sistem yang terdiri dari berbagai komponen, tidak hanya perangkat keras komputer beserta dengan perangkat lunaknya saja akan tetapi harus tersedia data geografis yang benar  dan sumberdaya manusia untuk melaksanakan perannya dalam memformulasikan dan menganalisa persoalan yang menentukan keberhasilan SIG (Hartoyo, dkk., 2010).
Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan suatu dunia nyata yang dapat direpresentasikan di atas monitor komputer. Sebagaimana halnya sebuah lukisan di atas sehelai kertas dapat merepresentasikan sesosok manusia. Akan tetapi SIG mempunyai kemampuan lebih dan fleksibel dibandingkan dengan lukisan di atas kertas ataupun lembaran-lembaran peta. Pada masa sekarang, saat segala sesuatu di dunia ini berkembang dengan sedemikian pesatnya, informasi memegang peranan yang sangat penting di berbagai kalangan masyarakat. Dalam hal ini, informasi menjadi sebuah pijakan atau dasar bagi seseorang untuk melakukan suatu tindakan atau membuat sebuah keputusan. Maka kemudian berkembanglah suatu sistem teknologi informasi yang menjadi sarana penunjang untuk mengolah dan menyajikan informasi secara cepat, mudah dimengerti dan aplikatif. Salah satu dari sekian banyak jenis teknologi informasi yang berkembang dewasa ini adalah Geographic Information System (GIS) atau dalam bahasa Indonesia sering disebut dengan Sistem Informasi Geografis (SIG) (Puspita, 2009).
Teknologi Sistem Informasi Geografi (SIG) telah banyak digunakan manfaatnya untuk meningkatkan komunikasi dan kolaborasi dalam pengambilan keputusan (decision making), pengelolaan aset aset dan sumberdaya secara efektif, meningkatkan alur kerja secara efisien, serta digunakan dalam perbaiki akses suatu informasi. SIG yang komprehensif mencakup berbagai penggunaan, antara lain untuk kompilasi dataset geografis, pembuatan alur kerja dan kontrol kualitas authoring’ peta dan model-model analitik, serta untuk mendokumentasikan metode metode kerja. SIG yang komprehensif akan menyediakan sarana atau media yang lengkap untuk pengelolaan, visualisasi, serta sebagai sarana mengkomunikasikan suatu fenomena yang dikaji (Hartoyo, dkk., 2010).
Ada beberapa alasan yang mendasari mengapa perlu menggunakan SIG, menurut Anon (2003) dalam As Syakur (2007), alasan yang mendasarinya adalah:
1. SIG menggunakan data spasial maupun atribut secara terintergarsi
2. SIG dapat memisahkan antara bentuk presentasi dan basis data
3. SIG memiliki   kemampuan   menguraikan  unsur-unsur yang ada  dipermukaan
    bumi ke dalam beberapa layer atau coverage data spasial
4. SIG memiliki kemampuan yang  sangat   baik   dalam   menvisualisasikan   data
    spasial berikut atributnya
5. Semua operasi SIG dapat dilakukan secara interaktif
6. SIG dengan mudah menghasilkan peta -peta tematik
7. SIG sangat membantu pekerjaan yang erat kaitanya dengan bidang  spasial  dan
    geoinformatika (Aini, 2007).
Sebagian besar data yang akan ditangani dalam SIG merupakan data spasial yaitu sebuah data yang berorientasi geografis, memiliki sistem koordinat tertentu sebagai dasar referensinya dan mempunyai dua bagian penting yang membuatnya berbeda dari data lain, yaitu informasi lokasi (spasial) dan informasi deskriptif (attribute) yang dijelaskan berikut ini:
1.    Informasi lokasi (spasial), berkaitan dengan suatu koordinat baik koordinat Geografi  (lintang  dan  bujur)  dan  koordinat  XYZ,  termasuk diantaranya  informasi datum dan proyeksi.
2.  Informasi deskriptif (atribut) atau informasi non spasial, suatu lokasi yang memiliki beberapa keterangan yang berkaitan dengannya, contohnya: jenis vegetasi, populasi, luasan, kode pos, dan sebagainya (Hartoyo, dkk., 2010).
ArcView GIS merupakan salah satu perangkat lunak dekstop Sistem Informasi Geografis dan pemetaan yang telah dikembangkan oleh ESRI. Dengan ArcView GIS, pengguna dapat memiliki kemampuan-kemampuan untuk melakukan visualisasi meng-explore, menjawab query (baik basis data spasial maupun non spasial),  menganalisis  data  secara  geografis  dan  sebagainya (Taufik, 2011).
Ada tiga bentuk penyajian data spasial dalam ArcView, yaitu bentuk titik (point), bentuk garis (polyline) dan bentuk area (polygon). Masing-masing bentuk ini mempunyai fungsi sendiri-sendiri. Proses digitasi memerlukan suatu data dasar (peta), dimana data dasar tersebut dapat dipilah-pilah sehingga berguna dalam melakukan proses analisis selanjutnya (As-syakur, 2006).



BAB III
METODE PENELITIAN

            Yang dikatakan bahan dalam penelitian ini adalah data. Data yang dipakai berupa data sekunder dan data primer. Data sekunder terdiri dari; kondisi umum wilayah dan kondisi aktifitas yang sedang berlangsung. Data primer terdiri dari data spasial dan hasil pengukuran dilapangan (raster dan vector), selain itu digunakan Citra satelit Landsat 5 TM Path/Row 123/57 direkam pada tahun 2002 dan Peta digital kedalaman perairan Pulau Bunguran serta Peta Laut Natuna, Dishidros TNI AL. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survai. Proses penentuan kesesuaian kawasan tersebut dilakukan dengan menggunakan operasi spasial dengan memanfaatkan aplikasi SIG. Operasi spasial tersebut merupakan operasi tumpang susun (overlay), dalam prosesnya operasi tumpang susun adalah adalah suatu proses penyatuan data spasial dan merupakan salah satu fungsi efektif dalam SIG yang digunakan dalam analisa keruangan. Sedangkan metode yang digunakan adalah weighted overlay (ESRI, 2007). Weighted overlay merupakan sebuah teknik untuk menerapkan sebuah skala penilaian untuk membedakan dan menidaksamakan input menjadi sebuah analisa yang terintegrasi. Weighted overlay memberikan pertimbangan terhadap faktor atau kriteria yang ditentukan dalam sebuah proses pemilihan kesesuaian.



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Pelaksanaan penelitian dilakukan dari bulan Juli sampai dengan Desember 2008. Penelitian ini dilakukan di 9 Desa yang ada di Pulau Bunguran, Kabupaten Natuna. Adapun desa yang menjadi lokasi kegiatan tersebut adalah : Desa Pengadah, Desa Kelanga, Desa Tanjung, Desa Sepempang, Desa Cemaga, Desa Sabang Mawang, Desa Sededap, Desa Pulau Tiga dan Desa Kelarik. Untuk lebih jelasnya dapat dilahat pada Gambar 2.

Gambar 2. Lokasi penelitian



Dari hasil analisa spasial dengan menggunakan metode weighted overlay diperoleh tiga kesesuaian kawasan KJT dan Rumput Laut yaitu: sangat sesuai, sesuai dan tidak sesuai. Gambar 3 berikut ini memvisualisasikan sebaran kawasan kesesuaian di perairan Pulau Bunguran.



Gambar 3. Kelas kesesuaian kawasan KJT dan Rumput Laut



Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa dominansi kesesuai kawasan berada pada kelas sesuai yaitu sebesar 49,4%, kemudian kelas sangat sesuai sebesar 31,1% dan tidak sesuai sebesar 19,5%. Tabel berikut ini memaparkan luas dan persentase kesesuaian kawasan di perairan Pulau Bunguran.


          Tabel Luas dan persentase kesesuaian kawasan KJT dan Rumput Laut
Kelas Kesesuaian
Luas (Ha)
Persentase
Tidak Sesuai
30.174,3
19,5%
Sesuai
76.491,63
49,4%
Sangat Sesuai
48.193,92
31,1%
Jumlah
154.859,9
100,0%


Jika dominansi kelas kesesuaian kawasan berada pada kelas sesuai dan sangat sesuai maka dapat dikatakan bahwa hampir disepanjang garis pantai Pulau Bunguran dapat dilakukan aktifitas KJT dan rumput laut seperti keramba jaring tancap maupun budidaya rumput laut. Berikut ini merupakan gambaran tentang kesesuaian kawasan KJT dan Rumput Laut untuk 9 desa di Pulau Kabupaten Natuna.

1. Desa Pengadah, Kelanga,
Tanjung dan Sepempang Hasil rekaman yang tergambar pada citra Landsat 5 TM, menyatakan pada kawasan ini banyak mendapat gangguan atmosfir baik awan maupun kabut. Sehingga mengganggu dalam proses interpretasi dan analisa kawasan. Hasil analisa menunjukkan sebagian besar perairan di keempat desa tersebut layak dilakukan aktifitas KJT dan rumput laut karena kelas kesesuaian berada pada kelas sangat sesuai dan sesuai. Sementara beberapa kawasan (sangat kecil sekali) berada pada kelas tidak sesuai seperti pada sekitar Pulau Sahi di Desa Tanjung dan di sekitar Pulau Senoa, Desa Sepempang. Hal ini diakibakan karena hasil interpolasi kedalaman yang menggeneralisasi kedalaman perairan pada sekitar pulau-pulau tersebut.



Gambar 4. Kesesuaian kawasan KJT dan rumput laut di perairan Desa Pengadah,
                     Kelanga, Tanjung dan Sepempang

2. Desa Cemaga
Desa Cemaga memiliki tutupan awan relatif lebih sedikit. Baik di daratan maupun diperairan. Kelas kesesuaian kawasan yang terdapat pada perairan Desa Cemaga terdiri dari kelas sangat sesuai, sesuai dan tidak sesuai. Kelas Sesuai mendominasi pada perairan ini, diikuti oleh kelas sangat sesuai dan tidak sesuai. Kelas tidak sesuai dapat ditemukan disepanjang garis pantai Tanjung Medang dan pada beberapa pulau kecil yang berada di kawasan Desa Cemaga.




Gambar 5. Kesesuaian kawasan KJT dan rumput laut di perairan Desa Cemaga


3. Desa Pulau Tiga, Sabang Mawang dan Sededap
Hasil siaman citra menunjukkan beberapa bagian kawasan di Pulau Tiga tertutupi oleh awan baik untuk daratan maupun perairannya. Dari hasil analisa kesesuaian kawasan terlihat sebagian besar kawasan pada perairan Pulau Tiga tidak sesuai khususnya pada bagian luar Pulau Tiga yang berada di bagian Barat Selatan dan Timur. Namun pada perairan antar pulau (selat-selat) merupakan kawasan yang sangat sesuai dan sesuai untuk aktifitas KJT dan rumput laut, seperti yang terlihat pada Gambar 6.


Gambar 6. Kesesuaian kawasan KJT dan rumput laut di perairan Pulau Tiga



4. Desa Kelarik
Di perairan Desa Kelarik sebagian besar merupakan kawasan yang cocok untuk melakukan kegiatan KJT dan rumput laut. Dominasi kelas kesesuaian sesuai dan sangat sesuai tersebar merata diperairannya. Kelas tidak sesuai hanya berada pada sekitar pulau-pulau kecil yang berada dalam naungan administrasi Desa Kelarik, ketidak sesuaian disebabkan oleh fakctor kedalaman yang menjadi pembatas kesesuaian karena memiliki pengaruh yang paling besar diantara factor-faktor lainnya.



Gambar 7. Kesesuaian kawasan KJT dan rumput laut di perairan Desa Kelarik




BAB V
KESIMPULAN

Analisa spasial kawasan P. Bunguran dengan menggunakan metode weighted overlay memberikan hasil bahwa dominansi kesesuai kawasan untuk kegiatan KJT dan rumput laut berada pada kelas sesuai yaitu sebesar 49,4%, kemudian kelas sangat sesuai sebesar 31,1% dan tidak sesuai sebesar 19,5%. Hasil analisa untuk Desa Pengadah, Kelanga, Tanjung dan Sepempang menunjukkan sebagian besar perairan di keempat desa tersebut layak dilakukan aktifitas KJT dan rumput laut karena kelas kesesuaian berada pada kelas sangat sesuai dan sesuai. Di perairan Desa Cemaga kelas sesuai mendominasipada perairan ini, diikuti oleh kelas sangat sesuai dan tidak sesuai. Kelas tidak sesuai dapat ditemukan disepanjang garis pantai Tanjung Medang dan pada beberapa pulau kecil. Hasil analisa kesesuaian kawasan terlihat sebagian besar kawasan pada perairan Pulau Tiga tidak sesuai khususnya pada bagian luar Pulau Tiga yang berada di bagian Barat Selatan dan Timur. Namun pada perairan antar pulau (selat-selat) merupakan kawasan yang sangat sesuai dan sesuai untuk aktifitas KJT dan rumput laut. Di perairan Desa Kelarik sebagian besar merupakan kawasan yang cocok untuk melakukan kegiatan KJT dan rumput laut. Dominasi kelas kesesuaian sesuai dan sangat sesuai tersebar merata di perairannya.





DAFTAR PUSTAKA

Aini,      A.      2007.      Sistem      Informasi      Geografis          Pengertian        dan     Aplikasinya.
          http://p3m.amikom.ac.id (Diakses pada tanggal 23 Maret 2013).

Asmaranto,   R.   2010.    Georaphic   Information  Sistem.   http://repository.ui.ac.id    (Diakses   pada
          tanggal 25 Maret 2013).

As-syakur,    A.   R.    2006.    Pengenalan    ArcView.     http://repository.ipb.ac.id    (Diakses    pada
          tanggal 23 Maret 2013).

Bengen. D.G., 2002. Pengelolaan Wilayah   Pesisir   Secara   Terpadu  Berkelanjutan   dan    Berbasis
          Masyarakat. Institut Pertanian Bogor.

Hartoyo,     Nugroho,      Bhiworo,     Khalil.     2010.    Modul       Sistem       Informasi     Geografis.
          http://forestclimatecenter.org (Diakses pada tanggal 23 Maret 2013).

Husein,       R.         2006.         Konsep           Dasar            Sistem           Informasi         Geografis.
          http://repository.usu.ac.id (Diakses pada tanggal 23 Maret 2013).

LAPAN. 2004. Pembangunan Ekonomi Masyarakat Tahun   Anggaran    tentang   Implementasi    dan
          Pembinaan    Pemanfaatan   Penginderaan   Jauh    untuk    KJ  dan rumput laut (Studi Kasus:
          Kesesuaian Perairan      Budidaya      Ikan   Kerapu   dengan   Menggunakan Keramba   Jaring
          Apung   di Kabupaten Situbondo).

Prahasta, E. 2003.Sistem Informasi Geografis: Arch View Lanjut. Informatika. Bandung.

Pusat  Survei  Sumberdaya Alam Laut, 2005. Analisa Kesesuaian KJT dan rumput    laut.    Kabupaten
          Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur. Cibinong.

Puspita, Y. 2009. Penggunaan ArcView  GIS   3.3   Pada   Perencanaan   Aplikasi Sistem     Informasi     
          Geografislokasi     Sekolah    di   Wilayah   Kota   Bogor.  http://gunadarma.ac.id (Diakses pada
          tanggal 23 Maret 2013).

Subandar, A. 1999. Potensi Teknik Evaluasi Multi Kriteria Dalam Pengelolaan Sumberdaya Alam dan
          Lingkungan Hidup. Jurnal Sains dan Teknologi. Indonesia Vol 1 No. 5. Hal 70-80.

Taufik. 2011.   Aplikasi     ArcView    dan  Fungsi Toolbar. http://repository.ipb.ac.id  (Diakses    pada
          tanggal 25 Maret 2013).

Yayasan   Gema   Lingkungan Indonesia. 2008. Rencana Pengelolaan Terumbu Karang. COREMAP II,
          Natuna.

0 komentar:

Posting Komentar